Foto dokumentasi penulis
Foto dokumentasi penulis

Ramadan tahun ini beda sekali dengan tahun-tahun sebelumnya. Hari ini, pembukaan puasa pertama ramadan tahun 1441 Hijriah, jatuh pada tanggal 24 April 2020. Sepi, tak seperti biasanya. Tarawih malam pertama tak terdengar dari masjid yang hanya berjarak 200 meter dari rumahku. Tak terdengar lantunan doa yang biasanya terus berkumandang sepanjang malam. Tahun ini, kita diharuskan ada di rumah saja. Karena ada virus penyakit yang mewabah di seluruh negeri, termasuk Indonesia. Virus yang tak bisa diremehkan begitu saja. Tercatat sampai detik ini pasien yang positif sebanyak 8211 jiwa, 1002 jiwa berhasil sembuh, sementara 689 jiwa meninggal dunia. Belum lagi di negara-negara lainnya yang lebih tinggi jumlah positif penderitanya.

Virus covid 19. Banyak persepsi yang mengatakan datangnya virus ini. Yang pasti menurut berita yang beredar, pasien pertama ditemukan di Kota Wuhan, Cina. Lalu merambah ke seluruh dunia. Hanya dengan bersentuhan saja, virus ini bisa cepat menular tergantung pada antibodi yang dimiliki. Dan social distancing pun diberlakukan di seluruh dunia. Kita harus di rumah saja. Maka masjid, mushola dan tempat peribadatan lainnya juga tak lagi berpenghuni, tak lagi ada yang menyinggahi. Kita dihimbau untuk  beribadah dari rumah saja. Segala bentuk keramaian ditiadakan. Maka sepilah kini Ramadan. Kegiatan belajar, bekerja, dan beribadah dilakukan di rumah masing-masing. Anak-anak pelajar semua bersekolah dari rumah, tugas-tugas pelajaran semua dikerjakan di rumah, para orang tua mendadak jadi guru semua. Bekerja dari rumah pun diberlakukan untuk pegawai abdi negara, sementara yang bekerja di perusahaan milik swasta mempunyai kebijakan masing-masing menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah. Sedangkan kaum pekerja lepas meronta-ronta karena pekerjaan yang berbayar harian pun sepi adanya. Tak ada proyek yang datang, tak ada orang-orang di jalanan. Karena masing-masing berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri dan menunda segala proyek-proyek yang telah direncanakan hingga pandemik ini berakhir.

Entah kapan. Semua berharap secepatnya, agar dunia kembali hidup seperti sedia kala. Kebutuhuan ekonomi bisa terpenuhi secara normal seperti biasanya. Ah, rindunya ..

Rindu pada Ramadan tahun-tahun lalu. Yang masih bisa kita lihat para Muslimin berbondong-bondong ke masjid untuk tarawih, yang masih bisa kita melihat anak-anak berlarian saat sholat tarawih di masjid, dan kemudian orang-orang tua yang sibuk menghardik mereka. Yang masih bisa kita melihat pedagang-pedagang menu takjil di jalanan atau di pos tertentu yang disediakan, dan melihat kerumunan orang-orang berbelanja sibuk menyiapkan buka puasa. Ah, hari ini tak ada. Tak ada keramaian itu, satu dua tampak berjualan mengharap datang rejeki untuk bekal Lebaran, namun sepi pembeli. Entah bagaimana nasib jajanan-jajanan yang tak laku terjual itu. Kiranya akan lekas basi. Dan pedagang pun habis di modal tak kembali. Lebaran jadi terancam sepi, dan muram durja.

Namun tetap, hari kemenangan adalah hari kemenangan saat hari ini kita bersabar dalam puasa Ramadan. Kita akan tetap menemui kemenangan itu. Kita harus yakin, bulan Ramadan kali ini adalah penuh cobaan dan ujian untuk melatih kesabaran lebih tinggi lagi. Kiranya saat Lebaran nanti, wabah pun berhenti. Lalu di buka lagi masjid-masjid supaya kita bisa sholat Ied bersama. Itu adalah doa-doa kita semua. Supaya kita cepat bisa berkumpul dengan keluarga besar, bertemu kawan-kawan, saling bersalaman, berpelukan melepas rindu. Kita ingin ada kemenangan itu.

Hari ini memang bagaikan perang yang diam-diam. Dengan musuh yang tak kasat mata, virus. Yang membuat semuanya berjarak, hingga kita yang dalam perantauan tak bisa kembali pulang. Pemerintah menutup segala aspek jalur transportasi laut, udara dan juga membatasi jalur darat. Harapan bertemu keluarga yang setahun sekali itu pun kandas. Hanya bisa bertemu lewat doa-doa. Saling mendoakan dan menguatkan satu sama lain dari jauh saja, yakin pada Allah SWT yang akan terus menjaga.

 

Tarakan, 24 April 2020

_____________________________________________________________________

Profil penulis

Seorang ibu dengan 3 anak. Ibu rumah tangga yang mencari kesibukan sebagai seniman, pegiat literasi, sesekali juga menulis meski belum bisa dibilang penulis. Hidupnya nomaden, asal dari malang, namun sementara saat ini berdomisili di Kota Tarakan Kalimantan Utara, entah besok atau lusa akan pindah kemana.