(Ilustrasi:Foto Istimewa)
(Ilustrasi:Foto Istimewa)

Kepanikan masyarakat atas meluasnya wabah Covid-19 akibat virus Corona membuat berbagai berita terkait kasus yang terjadi cepat menyebar. Tak jarang, kabar yang beredar tak sesuai dengan kondisi riil. 

Hal itu yang dialami oleh N, seorang remaja perempuan asal Kota Magetan. Dara berusia 18 tahun itu harus terbebani mental dan batinnya menerima kabar hoaks yang menimpa keluarganya. 

N yang merupakan anak salah satu pasien dalam pengawasan (PDP) tersebut mendapati banyak kabar bohong tersebar di masyarakat. Bahkan, kabar bohong itu juga menimpa ibunya, R (45) yang tengah menjalani perawatan di salah satu rumah sakit (RS) di Kota Magetan.

Sore kemarin, N terlihat gelisah saat wartawan MadiunTIMES mencoba menyapanya di sela-sela kegelisahannya menunggu kabar sang ibu yang sedang dirawat.

Dia menunggu dengan sabar di lorong RS tempat ibunya diisolasi, setelah dinyatakan PDP oleh salah satu RS dekat rumahnya. N pun menceritakan kronologi runtut cerita tentang vonis PDP dan bagaimana berita hoaks menyebar luas di masyarakat selang dua hari setelah ibunya diisolasi.

“Ibu sakit batuk sama demam itu sudah dua minggu. Setelah melakukan pemeriksaan rontgen di RS dekat rumah, hasilnya menunjukan infeksi paru-paru. Pihak RS tersebut termasuk perawatnya panik, akhirnya ibu saya di PDP Corona dan dirujuk ke RS rujukan,” urainya. 

Raut pilu tersirat di wajah N sore itu. Dengan menghela napas panjang, ia melanjutkan ceritanya sambil sesekali mengalihkan pandangan ke sekitar.

Setelah sampai di RS rujukan, pihak RS melakukan rontgen ulang dan hasilnya memang benar ditemui Pneumonia. 

"Ibu saya memang memiliki riwayat infeksi paru-paru, apa iya setiap infeksi paru-paru selalu berhubungan dengan Corona, bahkan dokter saja sampai menanyakan pada ibu saya. Ibu kalo napas sesak ya, mengap-mengap juga?" tuturnya menirukan pertanyaan dokter. 

"Dokter itu bertanya seakan tidak mempercayai hasil rontgen tersebut, ibu saya otomatis menjawab iya karena memang itu yang dirasakan ibu saya," lanjutnya.

Namun, jawaban-jawaban yang diberikan ibunya pada tim dokter berbuntut panjang. Tanpa ditanya riwayat perjalanan atau kemungkinan kontak dengan pasien Covid-19, sang ibu mendapat status PDP. 

"Mungkin hanya sebagian orang yang tau bagaimana rasanya berada pada posisi saya dan keluarga, ketika menyaksikan betapa mudahnya PDP divoniskan pada ibu saya," kenangnya.

Dengan napas sedikit tertahan N melanjutkan ceritanya. Usai status PDP disandang, keluarga lain yang ada di rumah pun sudah didatangi tim kesehatan dan beberapa perawat dari RS setempat. 

"Sehari setelah ibu diisolasi, mereka memeriksa seluruh anggota keluarga saya dan hasilnya mereka dalam kondisi baik-baik saja," terangnya. 

Pemeriksaan itu bukan masalah. Yang jadi soal adalah ketika ada oknum-oknum tak bertanggung jawab yang menyebarkan kabar bahwa keluarga N merupakan suspect Corona.

"Yang sangat saya sayangkan adalah kenapa pihak-pihak tersebut membuat pesan broadcast yang memberitakan bahwa ibu saya PDP dan data keluarga saya diungkap dengan gamblang, apa dipikir saya terima dengan hal semacam itu? Boleh silahkan memberitakan tapi tidak usah berlebihan bawa-bawa PDP lengkap dengan data keluarga," ujar N yang terlihat menahan tangis di ujung pelupuk matanya.

N mengetahui broadcast tersebut beredar atas pemberitahuan dari anggota keluarga lainnya, selang dua hari ibunya dirawat di RS rujukan. 

“Jujur saya dan keluarga keluar rumah saja sampai dilihatin, seakan mereka itu jijik dengan keluarga saya,” sesalnya.

Dengan nada sedikit emosi, N segera menyelesaikan ceritanya. “Bahkan penjual nasi dekat rumah saja sampai menanyai saya. Kalau keluarga saya positif Covid, tidak mungkin saya dibiarkan keluar rumah, satu keluarga pasti sudah dikarantina. Saya sampai benar-benar sebegitu marah dan sensitifnya dengan orang-orang sekitar,” paparnya.

Tekanan demi tekanan membuat keluarga N disertai rasa was-was yang berlebihan bahkan terhadap anggota keluarga terdekat. Belum lagi keluarga pasien yang harus berhadapan dengan media yang mempertanyakan kebenaran berita tersebut, sedangkan konfirmasi dari pihak RS pun belum sepenuhnya keluar.

Penyebaran hoaks tersebut, menurut N sangat merugikan bagi keluarganya. Bahkan, ia mengaku mengalami tekanan mental akibat penghakiman dan perundungan yang diterima. 

N menyelesaikan ceritanya dan menyampaikan beberapa harapan. Pihak keluarga tersebut berharap agar semua pihak untuk lebih waspada terutama dalam menyebarkan data pasien dan keluarga. 

"Karena berita hoaks yang belum jelas sumbernya akan meluas dan berdampak bagi keluarga yang bersangkutan, ada baiknya menanyai pihak keluarga terlebih dahulu, mencari kepastian informasi dengan data yang kuat agar tidak merugikan banyak pihak," pintanya.

Hingga saat ini (04/01/2020) pasien masih diisolasi di RS rujukan di Kota Magetan. MadiunTIMES juga masih menunggu konfirmasi ulang pihak RS dan pengumuman hasil swab (pemeriksaan lendir saluran pernapasan) dari laboratorium.