Nurhasyim menunjukkan lalat dan mediasi di kantor desa Tunggangri / Foto : Agus / Tulungagung TIMES
Nurhasyim menunjukkan lalat dan mediasi di kantor desa Tunggangri / Foto : Agus / Tulungagung TIMES

Pengusaha ayam potong di Desa Tunggangri Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung, diprotes puluhan warga lantaran dituding sebagai biang kerok banyaknya lalat yang membuat warga sekitar resah. Usaha ternak ayam potong milik Romadhon yang berada tak jauh dari pasar itu dipersoalkan sehingga warga melakukan protes.

Selain milik Romadhon, sebenarnya masih ada beberapa kandang ayam lain yang juga tak luput disebut warga yang geram karena lingkungannya menjadi banyak lalat. "Bau sangat busuk dan menyengat akhir-akhir ini cukup meresahkan, kita minta diatasi agar tidak berdampak lebih parah," kata Agus (40) warga yang turut dalam aksi, Selasa (21/01) siang.

Meski begitu, kandang ayam milik H.Romadhon bukan satu – satu nya kandang ,namun masih ada pengusaha ternak lainya di lokasi tersebut. “Masyarakat di sini merasa dirugikan karena adanya bau yang menyengat dari ayam potong itu. Kemudian warga resah kemungkinan dapat terjangkit wabah penyakit  ,” kata Nurhasim (50)  seorang warga sekaligus pedagang makanan dan minuman ,  Selasa (21/1/2012).

Senada dengan Agus, Nurhasyim (45) pemilik warung di utara pasar Tunggangri juga terpaksa harus tutup beberapa hari karena diserbu ribuan lalat. "Warga sini resah, warung saya harus tutup," jelasnya.

Karena dianggap parah, bukan hanya protes namun warga menanyakan izin usaha yang dimiliki peternak ayam di wilayah itu.

Sekretaris desa Tunggangri Misbakhuk Khoiri mengatakan jika mediasi telah dilakukan antara pihak warga dan pemilik usaha disaksikan oleh pihak dinas Peternakan dan Kecamatan Kalidawir. "Warga tidak melarang pemilik usaha beternak ayam, namun meminta agar persyaratan seperti izin harus dipenuhi," terang Misbah.

Dari hasil pertemuan yang dihadiri sekitar 25 warga itu, diketahui selama tiga tahun beternak ayam para pemilik usaha belum mengantongi izin. "Ayam sudah habis di kandang, sementara sepakat tidak boleh di isi dengan ayam yang baru sebelum izin dipenuhi," tuturnya.

Atas kesepakatan itu, kedua belah pihak menerima dan warga meninggalkan kantor desa Tunggangri.