Jokowi & SBY. (Foto: Doc. Setpres)
Jokowi & SBY. (Foto: Doc. Setpres)

Agustinus Eko Rahardjo atau yang lebih dikenal dengan sapaan Jojo Raharjo membeberkan perbedaan gaya komunikasi kepresidenan saat ini yang  sangat berbeda dengan gaya komunikasi pemimpin terdahulu.  

Untuk diketahui, Jojo Raharjo pernah menjabat sebagai Tenaga Ahli Madya Komunikasi Politik dan Dinamika Informasi di Kantor Staf Presiden tahun 2016-2019.

Ia menyampaikan, pada masa pemerintahan SBY, komunikasi kepresidenan lebih cenderung akademik dan tertata bahasanya.

"Sementara kalau kita melihat gaya komunikasi kepresidenan Jokowi lebih out of the box!" katanya dalam kuliah tamu dan bedah buku dengan tema Revitalisasi Komunikasi Kepresidenan di Era Post Truth di Ruang Sidang Lantai 7, Gedung B, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) beberapa waktu yang lalu.

Tidak hanya komunikasi yang out of the box saja, akun resmi kepresidenan pun, katanya juga memberikan informasi sesuai dengan era milenial sekarang.

"Dapat dilihat pada akun youtube kepresidenan resmi saat ini, konten yang ada pada video-video tersebut tidak hanya sekadar memberikan informasi saja, tetapi juga dikemas dengan unik dan menarik sesuai dengan era saat ini," paparnya.

Bila kita perhatikan, sekarang ini banyak platform yang bisa digunakan sebagai sarana komunikasi. Masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan waktu mereka untuk mengakses internet selama 8 jam.

Sayangnya, Ketua Pascasarjana Ilmu Komunikasi UB Rachmat Kriyantono menyatakan, banyaknya waktu yang dihabiskan masyarakat untuk mengakses internet tidak dibarengi dengan peningkatan minat baca, sehingga seringkali orang mudah terkena hoaks.

"Kita sekarang sudah mulai masuk kategori bencana komunikasi. Tampaknya hp yang kita pegang sehari-hari dengan akses internet yang luar biasa ini belum diperbaharui dengan sikap mental kita, ditambah dengan sistem politik saat ini yang lebih ke Amerika. Berdasarkan hal inilah membawa suatu konsekuensi yaitu hoaks," beber Rachmat.

Contoh kasusnya, sambungnya, pernah terdapat hoax bahwa tenaga kerja asing China ada sekitar 10 juta di Indonesia. Berita itu pun langsung viral padahal berita ini tidak terbukti kebenarannya.

Maka dari itu, saat membaca berita perlu pengecekan ulang, apakah informasi yang terdapat pada berita itu benar atau tidak sehingga tidak terkena hoaks tersebut.

"Selain itu, ketika kita berbagi informasi, berbagilah informasi yang positif sehingga orang yang melihat postingan kita akan ikut berpikir positif," imbuhnya.