Mbah Sumirah saat membuat sapu lidi di rumahnya (foto : Gito / Jatim TIMES)
Mbah Sumirah saat membuat sapu lidi di rumahnya (foto : Gito / Jatim TIMES)

Siapapun akan terenyuh saat bertandang ke rumah Mbah Sumirah (65) warga Dusun Tegal Paron Desa Selodakon Tanggul Jember, bagaiman tidak, nenek yang tinggal sendirian ini, harus menyambung hidup dengan membuat sapu lidi untuk selanjutnya dijual.

Tidak hanya itu, selain usia yang sudah setengah abad lebih, kondisi kaki yang tidak sempurna (maaf, tidak memiliki jari sama sekali) akibat dari penyakit yang pernah dideritanya, harus ia jalani dengan sesekali mendapatkan uluran tangan dari kepedulian tetangganya.

“Sudah gak bisa kerja lagi, hanya ini (sambil menunjukkan beberapa sapu lidi buatannya) yang bisa saya kerjakan, kalau gak nemu blarak (daun kelapa,red) ya gak kerja, jadi kadang dikasih sama tetangga,” ujar Mbah Sumirah.

Mbah Sumirah sendiri untuk membuat sapu lidi, untuk mencari bahan bakunya kadang mencari di ladang milik warga sekitar, kadang juga menunggu kalau ada daun kelapa yang jatuh. “Kadang juga dikasih tetangga kalau pas ada yang menebang pohon kelapa,” tambah mbah Sumirah.

Sedangkan untuk menjual sapu lidi buatannya, mbah Sumirah menunggu pengepul yang datang untuk mengambilnya. “Kalau sudah banyak, ada yang mengambil, satu ikat sapu lidi dibeli seharga 2000, kadang ya dapat 10 ribu, kadang ya dapat 20 ribu,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah mbah Sumirah memiliki KTP, ia hanya menggelengkan kepala. “Tidak punya, mau ngurus gimana, kondisi seperti ini,” ujarnya pasrah.

Sementara Suparti salah satu tetangga mbah Sumirah membenarkan jika selama ini mbah Sumirah tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, untuk menyambung hidup mbah Sumirah hanya mengandalkan dari membuat sapu lidi.

“Ya belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah, pemerintah desa juga belum pernah menegoknya, selama ini mbah Sumirah jualan sapu lidi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kadang juga dikirimi makanan tetangganya,” pungkas Suparti. (*)