Foto Istimewa
Foto Istimewa

Kecerdasan buatan atau (Artificial Intelligence) yang menjadi variabel utama  pada era 4.O sekarang, jika tidak disikapi secara bijaksana bisa-bisa menyesatkan umat manusia, memantik retaknya persaudaraan, dan pecahnya bangunan sosial.

Wartawan senior Anwar Hudijono menyampaikan hal di atas dalam halaqah (pengajian) di Masjid At Taqwa, SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo, Sabtu (30/11).

Menurut Cak Anwar, demikian dia akrab dipanggil, artificial intelligence (AI) sudah ada sejak zaman Nabi Musa ribuan tahun yang lalu. Petunjuk pengetahuan itu tertera di dalam Al Quran Surah Thaha ayat 85-99 atau yang dikenal dengan kisah Samiri.

AI adalah kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah. Menekankan pengembangan intelijen mesin, pola berpikir dan bekerja seperti manusia. Misalnya, pengenalan suara, pemecahan masalah, pembelajaran, dan perencanaan.

Saat ini banyak mesin atau robot AI. Banyak yang dibuat untuk menggantikan peran manusia. Deutch Bank melakukan PHK ribuan karyawannya dan mengganti dengan mesin AI. Drone-drone militer dibuat dengan kandungan AI. Di dalam Google Maps dan game on line juga memiliki AI.

Menurut dia, pada ayat 88 dan 89 disebutkan bahwa Samiri membuat jazad berupa patung anak sapi dari bahan emas. Jazad itu bisa mengeluarkan suara. Jazad adalah benda yang tidak memiliki ruh dan jiwa. Jazad ini diprogram oleh Samiri sehingga bisa mengeluarkan suara. Tetapi jazad itu tidak bisa menjawab pertanyaan. “Melihat ciri-ciri demikian, jazad ini pada masa akhir zaman ini bisa dipahami sebagai robot atau mesin,” tegasnya.

Dari kisah Samiri ini Allah memberi petunjuk bahwa AI bisa dibuat. Tetapi kalau justru yang mengembangkan AI ini orang non muslim, menurut Cak Anwar, berarti ada yang tidak beres dengan umat Islam dalam menyikapi Al Quran yang yang berfungsi juga sebagai sumber ilmu pengetahuan. Jangan-jangan benar apa yang dikatakan filosuf Muhammad Iqbal bahwa umat Islam berhenti berpikir selama 500 tahun.

Menggantikan Allah

Menurut dia, AI ini merupakan anugerah Allah kepada manusia untuk menjadi bekal dalam rangka menjawab tantangan Allah. Yaitu, agar manusia mengkeksplorasi atau memanfaatkan potensi langit dan bumi seperti tertera dalam Al Quran Surah Ar Rahman 33.

Namun Allah juga mengingatkan bahwa AI yang merupakan ujian juga memiliki potensi menyesatkan umat manusia. Hal itu bisa disimbolkan dengan sebagian umat Bani Israel yang kebacut terpesona sampai menjadikan jazad anak sapi emas Samiri itu sebagai tuhan menggantikan Allah.

“Ketika manusia meninggalkan Allah sebagai tuhan kemudian berganti kepada tuhan lain maka manusia itu mengalami degradasi sampai titik nadir. Dari sebaik mahluk menjadi seburuk mahluk,” katanya.

Gejala pengulangan sejarah sudah mulai tampak. Di banyak negara maju semakin banyak penganut atheisme dan agnostikme. Itu pengingkaran kepada Allah. “Handphone cerdas itu kan media kontak manusia dengan mesin AI. Coba sekarang gara-gara HP orang sampai lupa atau kepada perintah dan larangan Allah. Menghabiskan waktunya dengan HP daripada dzikir kepada Allah. Habis shalat bukan dzikir atau baca Quran tapi langsung buka medsos,” katanya disambut ketawa jamaah.

Dalam kisah Samiri itu diceritakan bahwa Nabi Musa sempat marah kepada kakandanya Nabi Harun. Hal itu merupakan simbolik bahwa AI bisa meretakkan hubungan kekeluargaan yang merupakan sendi  dasar sosial Islam. “Di tempat tidur suami-istri saling membelakangi sambil larut dalam HP masing-masing. Satu keluarga di ruang tamu tanpa berbincang karena semuanya asyik dengan HP masing-masing. AI bisa mendorong individualisme. Dan individualisme merupakan embrio liberalisme,” katanya.

Gegara jazad anak sapi emas Samiri itu Bani Israel pecah. Nabi Harun juga memprediksi perpecahan itu. AI bisa berdampak memecah belah bangunan sosial. “Saya menduga, operasi Arab Sprink yang membuat sejumlah negara Arab berantakan ada peran AI di dalamnya. Bukan mustahil AI juga bisa dipakai memecah belah Indonesia,” katanya.