Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

Hari AIDS Sedunia sedang ramai digaungkan hari ini (Minggu, 1 Desember 2019). 

Khususnya di dunia maya, dimana warganet membanjirinya dengan berbagai dukungan kepada para ODHA untuk terus bertahan dan menatap masa depan yang sama dengan mereka.

Selain berbagai dukungan, warganet pun tak lupa mengingatkan agar para ODHA tak lupa, jenuh dan malas untuk meminum ARV atau antiretroviral. 

Yakni, sejenis obat yang sampai saat ini dipergunakan untuk pasien HIV/AIDS untuk memperlambat perkembangan virus dan menggandakan diri, serta mencegah virus HIV menghancurkan sel CD4. 

"Jangan telat apalagi malas minum ARV nya yaaa, cma itu pembeda antara kmu dan mereka non ODHIV klo rajin mnum, hidupmu mash baik2 sja kok," cuit @GuavaMerahJambu.

Senada, @elisabethmurni juga menuliskan, "Terima kasih untuk terus bertahan dan tidak patah harapan sejak hari pertama menerima diagnosa. Aku tau ini berat, sangat berat. Tapi kamu sudah bertahan sejauh ini dan jadi makin kuat. Jangan bosen dan telat minum ARVnya, ya! Jaga kondisi, jaga kesehatan," ucapnya memberikan dukungan pada ODHA.

Dukungan terhadap para penyandang HIV/AIDS, selain sebagai bagian dalam gerakan melawan penyebaran virus mematikan juga sebagai bentuk mengenyahkan diskriminasi masyarakat atas penyandang HIV/AIDS yang selama ini terjadi.

"Jauhi HIV/AIDS, Dekati penyandang," menjadi slogan untuk melawan ketidakpahaman sebagian masyarakat terkait virus yang menurut UNAIDS (United Nations Programme on HIV and AIDS) telah menyerang 37 juta orang di dunia di tahun 2017 lalu.

Dari angka itu, Indonesia termasuk negara tertinggi kedua untuk kematian penderita AIDS dan berada di peringkat ketiga tertinggi untuk jumlah pengidap HIV di kawasan Asia Pasifik. 

Di tahun 2017 lalu, misalnya, jumlah pengidap HIV meningkat delapan kali lipat menjadi 48.300 dibandingkan dengan satu dekade yang lalu, 6.048 orang. 

Sedangkan penderita AIDS yang dilaporkan ke Kementerian Kesehatan sebanyak 9.280 pada 2017 atau meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan 10 tahun lalu.

Sementara itu, angka kematian akibat AIDS yang dilaporkan ke Kementerian Kesehatan pada 2017 meningkat 10,36 persen menjadi 948 orang dari 859 di tahun 2016. 

Mayoritas adalah orang usia produktif 30 hingga 39 tahun. Dengan urutan tertinggi kematian di karenakan HIV/AIDS dalam 30 tahun terakhir adalah Provinsi Jawa Timur (Jatim), sebanyak 4.010 jiwa, disusul Jawa Tengah (Jateng) 1.864 jiwa, DKI Jakarta 1.851 jiwa dan Papua 1.580 jiwa.

Data angka itulah yang membuat dunia pun menempatkan AIDS sebagai salah satu penyebab kematian mengerikan atas manusia sampai saat ini. 

Sehingga diperlukan adanya gerakan masal di seluruh dunia untuk mencegah sekaligus memberikan pemahaman tepat terkait HIV/AIDS.

Pun dalam memberikan dukungan atas perjuangan para ODHA yang terus bertahan hidup sampai saat ini.

@ddian_p menciutkan, "Tetap semangat, kami bersamamu. Tetap kuat dan bertahan hingga di titik sekarang itu berarti kalian hebat! Speechless lah buat teman-teman ODHIV/ODHA yang tetap semangat dan kuat, salut pokoknya. Jaga kesehatan dan jangan lupa ARV-nya yaa," tulisnya.
Akun @halogikaa juga menuliskan hal senada,

"Teruntuk kalian para ODHIV dan ODHA terus semangat karna HIV bukan akhir dari segalanya dan jangan pernah berpikir untuk menyerah karna banyak orang yang sayang sama kalian. Ingat kalian tidak sendirian, tetap jadi mnusia yang kuat ya. Jangan lupa minum ARVnya!," cuitnya.

Tak hanya terkait penanganan medis yang digaungkan di hari AIDS  ini. 

Warganet juga menggaungkan terkait berbagai persoalan yang membuat HIV/AIDS serupa gunung es, hanya terlihat dipermukaan tapi bergejolak di kedalamannya. 

Yakni, persoalan stigma dan mitos yang ternyata masih terjadi dan jadi persoalan serius untuk diungkap.

Persoalan yang membuat penyandang HIV/AIDS serupa puncak gunung es, dikarenakan banyak yang terkena virus mematikan itu malu untuk berkonsultasi atau berobat. 

Selain itu ketakpahaman terkait virus yang mengendap dan menggerogoti tubuh para penyandang pun perlakuan maayarakat, setali tiga uang. 

Stigma dan mitos terkait HIV/AIDS ini pula yang membuat setiap tahun penyandang HIV/AIDS terus juga bertambah.

Edukasi melawan stigma dan mitos ini pula yang setiap hari AIDS Sedunia dirayakan terus digaungkan oleh warganet. 

"Jika ditanya siapa yang berperan menghentikan epidemi HIV dan AIDS maka masyarakat/komunitas adalah jawabannya. Selamat memperingati Hari AIDS Sedunia dan mari kita apresiasi peranan  komunitas dan masyarakat yang telah membuat perbedaan!  Ya, communities make the difference!," cuit @SayaBerani_id.