Pemasangan papan larangan penambangan pasir di Kali Brantas beberapa waktu lalu (foto : Joko Pramono/Jatim Times)

Pemasangan papan larangan penambangan pasir di Kali Brantas beberapa waktu lalu (foto : Joko Pramono/Jatim Times)



Pemasangan papan larangan penambangan pasir pada Jum'at (14/6/19) silam nyatanya tak membuat surut penambang pasir ilegal di Kali Brantas untuk terus melakukan aksinya.

Papan larangan ini dipasang di akses jalan truk pengangkut pasir, dari dan menuju penambangan pasir ilegal di kali Brantas.

Hal ini disesalkan oleh Direktur Eksekutif Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Mangkubumi, M Ichwan Musyofa.

PPLH Mangkubumi adalah salah satu pihak yang diminta menyaksikan pemasangan papan larangan ini.

Untuk itu pihaknya akan menginisiasi  melapor ke Gubernur Jawa Timur.

“Sebenarnya suratnya sudah kami siapkan. Kami coba melapor ke gubernur, semoga ada tindakan,” ujarnya, Rabu (26/7/2019).

Menurutnya,  kondisi sungai Brantas saat ini sudah sangat memprihatinkan. 

Defisit pasir yang ada di dasarnya sudah sangat besar, dan butuh dana triliunan rupiah untuk pemulihan.

Satu-satunya jalan yang bisa dilakukan adalah menghentikan aktivitas penambangan, dan menunggu gunung Kelud meletus.

“Material dari letusan gunung berapi itulah yang bisa memulihkan dasar Sungai Brantas,” sambung Ichwan.

Penurunan dasar sungai Brantas akibat penyedotan pasir mencapai 6 hingga 10 meter.

Akibatnya aliran Brantas menjadi sangat deras, dan menimbulkan abrasi dan longsor yang  parah.

Kerusakan ini belum terhitung ekologi, seperti spesies hewan yang terancam akibat kerusakan Brantas.

Menurut Ichwan, penanganan Sungai Brantas tak cukup di tingkat lokal,  namun harus di level provinsi atau nasional.

“Sudah diberitakan media seperti itu, tetap saja tidak ada tindakan. Praktik ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada penyelesaian,” ucapnya.

Ichwan melamjutkan, sudah menjadi rahasia umum ada banyak pihak bermain dalam penambangan pasir ilegal di Kali Brantas.

Praktik ini sulit dihentikan karena banyak pihak yang terlibat di dalamnya.

Namun Ichwan tetap optimis ada jalan keluar, meskipun sangat berat.


End of content

No more pages to load